SINTESANEWS.ID– Car Free Day (CFD) di Tenggarong setiap Minggu pagi menjadi magnet bagi ribuan warga yang memadati area sekitar Museum Mulawarman dan Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara (Kukar).
Kegiatan ini bukan hanya sekadar ajang olahraga, seperti jalan santai, jogging, dan bersepeda, tetapi juga menjadi peluang bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Salah satu pedagang yang memanfaatkan momen CFD ini adalah Muharipah, seorang penjual jamu asal Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu.
Setiap Minggu, ia meninggalkan profesinya sebagai guru untuk menjajakan jamu tradisional berbahan dasar rempah-rempah.
“Saya di sini jualan hari Minggu karena tiap hari saya ngajar, jadi untuk selingan saja,” ungkap Muharipah, Minggu (1/8/2024).
Jamu yang dijual Muharipah dibanderol dengan harga Rp15-25 ribu per botol, tergantung kualitas dan bahan yang digunakan.
Menariknya, penjualan jamu di CFD mampu memberikan keuntungan hingga tiga kali lipat dibandingkan berjualan di rumah.
“Kalau di rumah biasanya hanya dapat Rp500 ribu, di sini bisa mencapai Rp1,5 juta,” ujarnya.
Muharipah telah berjualan jamu sejak tahun 2000 dengan resep yang diwariskan oleh neneknya.
Bahan-bahan yang digunakan antara lain kunyit putih, kunyit kuning, temu mangga, manjakani, jahe merah, jahe emprit, gula aren, gula pasir, dan kencur, yang sebagian besar diperolehnya dari Loa Kulu atau sesekali dibeli di Pasar Segiri Samarinda.
Melihat antusiasme masyarakat di CFD, Muharipah berharap pemerintah setempat bisa lebih memperhatikan tata ruang di kawasan ini agar penjual dan pembeli merasa lebih nyaman.
“Kalau bisa ditambah lagi fasilitasnya untuk para pedagang, jadi kita tidak repot bawa dari rumah, tinggal berjualan saja,” tutupnya. (ir/ar)
































