SINTESANEWS.ID – Wakil Ketua I DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Abdul Rasyid, menyuarakan pentingnya perencanaan yang matang dan berdampak nyata dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kukar 2025–2029. Hal ini disampaikan dalam Rapat Pembahasan Rancangan Awal RPJMD di Ruang Badan Musyawarah DPRD Kukar, Senin (4/8/2025).
Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani, serta dihadiri Wakil Ketua II Junadi, Wakil Ketua III Aini Farida, Anggota DPRD dari berbagai fraksi, Sekretaris Daerah Kukar Sunggono, dan Plt Kepala Bappeda Kukar Syarifah Vanesa Vilna.
Dalam forum tersebut, Abdul Rasyid menyoroti sejumlah program pembangunan di masa lalu yang menurutnya gagal memberikan manfaat riil bagi masyarakat.
“Kita pernah jalankan program jarak pagar, lalu rumput gajah, dan revolusi daging. Semuanya tidak jelas hasilnya. Masyarakat sudah diarahkan menanam ini-itu, tapi akhirnya bingung sendiri saat mau memasarkan hasilnya,” ungkapnya.
Ia bahkan menyindir program rumput gajah yang disebut ‘gajah mani’ namun tidak menghasilkan ‘money’. Bagi Rasyid, kejadian seperti ini tidak boleh lagi terulang dalam RPJMD ke depan. Ia menegaskan bahwa semua program harus dirancang dari hulu ke hilir.
“Ke depan, program yang kita buat harus jelas dari awal hingga akhir, dari produksi sampai ke pasar. Harus betul-betul dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.
Abdul Rasyid juga menyinggung besarnya investasi alat dan mesin pertanian (alsintan) yang sudah disebar dalam lima tahun terakhir.
Menurutnya, jika tidak dioperasikan dengan benar, maka masyarakat tetap tidak akan merasakan hasilnya.
Ia menekankan pentingnya menjadikan sektor pertanian sebagai tumpuan utama pembangunan lima tahun ke depan.
“Kalau sawit bisa jadi andalan, kita harus bantu masyarakat dengan bibit, pelatihan, dan pendidikan yang sesuai. Saya yakin, sektor pertanian bisa jauh lebih berkembang,” ujarnya.
Terakhir, ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh berjalan tanpa arah. RPJMD harus menjadi panduan strategis yang menciptakan program-program unggulan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
“Kita tidak ingin lagi ada program yang cuma ramai di awal, tapi tidak meninggalkan hasil. Mari kita bangun Kukar dengan program yang berdampak nyata,” tutupnya. (Adv/fi)
































