Home » Advertorial » Diskominfo Kukar » Aulia Sebut Tenggarong Etalase Kukar, Kebersihan hingga Pelayanan Jadi Cerminan Daerah

Aulia Sebut Tenggarong Etalase Kukar, Kebersihan hingga Pelayanan Jadi Cerminan Daerah

Senin,28 September 2026 10:54WIB

Bagikan : Array
Bupati dan Wakil Bupati bersama Sultan Kutai serta jajaran Forkopimda.

SINTESANEWS.ID – Kota Tenggarong memiliki peran strategis sebagai wajah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Karena itu, kualitas pembangunan, kebersihan lingkungan, pelayanan pemerintah, serta keramahan masyarakat di ibu kota kabupaten tersebut perlu mencerminkan kemajuan seluruh daerah.

Hal itu disampaikan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, dalam pidato peringatan HUT ke-244 Kota Tenggarong pada Rapat Paripurna DPRD Kukar di Ruang Sidang Utama DPRD, Senin (28/9/2026).

Aulia menyebut Tenggarong bukan sekadar pusat pemerintahan, melainkan juga etalase yang memperlihatkan identitas, kualitas pembangunan, dan peradaban masyarakat Kukar.

Menurutnya, meskipun Kukar memiliki 20 kecamatan dengan karakteristik masing-masing, Tenggarong tetap menjadi tempat pertama yang banyak menggambarkan wajah kabupaten bagi orang yang datang berkunjung.

“Orang datang ke Tenggarong dan melihat wajah Kukar. Orang melihat kebersihan kotanya, bagaimana pelayanan pemerintah diberikan, bagaimana kehidupan masyarakatnya, serta budaya dan keramahan masyarakatnya,” ujarnya.

Ia berharap Tenggarong tidak hanya tampil indah secara fisik, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas pembangunan dan pelayanan publik yang baik.

Aulia menjelaskan, identitas Tenggarong tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara. Kota tersebut berawal dari keputusan Sultan Haji Adji Muhammad Muslihuddin atau Aji Imbut pada 28 September 1782 yang memindahkan pusat pemerintahan kesultanan dari Pemarangan ke Tepian Pandan.

Kawasan tersebut kemudian dikenal dengan nama Tangga Arung yang bermakna Rumah Raja, sebelum berkembang menjadi Tenggarong seperti sekarang.

Sejarah panjang itu, kata Aulia, menjadikan Tenggarong bukan kota yang hadir secara tiba-tiba. Perkembangannya terbentuk melalui perjalanan pemerintahan kesultanan, kehidupan masyarakat di tepian Sungai Mahakam, perdagangan, perjumpaan berbagai kelompok masyarakat, serta pertumbuhan tradisi dan kebudayaan.

Karena itu, peringatan hari jadi ke-244 tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai perayaan bertambahnya usia kota.

“Di balik angka tersebut terdapat 244 tahun perjalanan sejarah, perjuangan, perubahan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat,” katanya.

Ia menilai, sejarah tersebut menjadi bagian penting dari identitas Kutai Kartanegara yang harus dijaga sekaligus dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.

Dalam kesempatan itu, Aulia juga menyampaikan harapan agar Tenggarong senantiasa mendapatkan keberkahan, dijauhkan dari berbagai persoalan, serta tumbuh menjadi kota yang maju, aman, nyaman, dan berbudaya.

Peringatan HUT ke-244 tahun ini mengangkat tema “Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya”. Tema tersebut, menurutnya, mengingatkan bahwa hubungan antara pemimpin dan masyarakat harus dibangun melalui kebersamaan.

Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti dalam seremoni peringatan hari jadi, tetapi diwujudkan melalui kerja bersama dalam menjaga kota dan meningkatkan kualitas pembangunan di Kukar. (Adv/Ja)

6085768219885996691-min

TOPIK TERKAIT

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

TEKNOLOGI

TERPOPULER

HIBURAN

bannera

POLITIK