Home » Advertorial » Diskominfo Kukar » Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat melaksanakan ziarah ke makam Raja Kutai.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat melaksanakan ziarah ke makam Raja Kutai.

Selasa,29 September 2026 10:28WIB

Bagikan : Array
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat melaksanakan ziarah ke makam Raja Kutai.

 

SINTESANEWS.ID – Kota ini berdiri karena satu keputusan besar. Di hari jadinya yang ke-244, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri mengajak masyarakat kembali memahami keputusan itu lewat ziarah ke makam Sultan Aji Imbut dan raja-raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Senin (28/9/2026).

Ziarah dipimpin langsung Aulia di kompleks pemakaman raja-raja Kutai di Tenggarong. Bagi Pemkab Kukar, agenda ini bukan seremoni pelengkap, melainkan salah satu rangkaian utama peringatan hari jadi kota.

Pesan yang dibawa Aulia sederhana sangat sederhana yaituTenggarong tidak lahir begitu saja.

“Yang perlu dipahami generasi sekarang, Tenggarong tidak hadir begitu saja. Ada perjuangan dan keputusan besar yang dilakukan Sultan Aji Imbut saat memindahkan pusat pemerintahan hingga akhirnya berkembang menjadi kota yang kita kenal saat ini,” ujarnya.

Keputusan itu, kata Aulia, adalah perpindahan pusat pemerintahan Kesultanan dari Pemarangan ke Tepian Pandan, yang kelak berkembang menjadi Tenggarong.

Ia menekankan bahwa langkah tersebut bukan urusan mengganti alamat kantor kerajaan. Itu langkah strategis untuk menciptakan kondisi yang lebih baik bagi kerajaan pada masanya.

Aulia juga mengisahkan perjalanan Sultan Aji Imbut yang kembali dari Tanah Wajo setelah gejolak melanda Kesultanan. Kepulangan itu menjadi bagian penting dalam upaya merebut kembali takhta dan menata ulang pemerintahan.

Dari kisah tersebut, ia menarik satu pelajaran bagi masyarakat hari ini.

“Sejarah mengajarkan bahwa perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari ketika ingin mencapai kondisi yang lebih baik. Itu yang ditunjukkan oleh Sultan Aji Imbut pada masanya,” katanya.

Menurut Aulia, ziarah bukan hanya penghormatan kepada para pendahulu. Kegiatan ini juga ruang refleksi bagi pemerintah daerah dalam melanjutkan pembangunan. Nilai kepemimpinan, keberanian mengambil keputusan, dan pengabdian kepada masyarakat yang diwariskan para pemimpin terdahulu, ujarnya, harus menjadi inspirasi dalam menjalankan pemerintahan saat ini.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga identitas Tenggarong sebagai kota yang tumbuh dari sejarah panjang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Semangat itu, menurutnya, tercermin dalam Erau Adat Kutai 2026 yang mengusung tema “Raja Menjamu Rakyatnya”, gambaran hubungan pemimpin dan rakyat yang dibangun atas dasar pelayanan dan penghormatan.

“Kita ingin nilai-nilai itu tetap hidup. Masyarakat harus menjadi bagian utama dari setiap pembangunan yang dilakukan pemerintah,” tuturnya.

Aulia berharap tradisi Erau terus dilestarikan sebagai warisan budaya daerah. Nilai sakralnya harus dipertahankan, sementara festivalnya ia harapkan makin berkembang dan menarik perhatian masyarakat luas. (Adv/Ja)

6085768219885996691-min

TOPIK TERKAIT

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

TEKNOLOGI

TERPOPULER

HIBURAN

bannera

POLITIK