SINTESANEWS.ID – Lonjakan jumlah siswa tingkat SMA/SMK di Kalimantan Timur mendorong DPRD Kaltim mendesak pemerintah provinsi segera menambah ruang belajar (rombel) dan membangun sekolah baru, terutama di wilayah padat penduduk seperti Samarinda.
Permintaan ini disampaikan Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi, dalam rapat dengar pendapat bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Jumat (20/6/2025).
Ia menyoroti kondisi sejumlah sekolah negeri yang kelebihan kapasitas, memaksa satu rombel diisi hingga 50 siswa.
“Ini tidak sehat untuk kualitas pendidikan. Semua dipaksakan masuk sekolah negeri, padahal kapasitas terbatas,” ujar Darlis.
Pemprov Kaltim menargetkan daya tampung 30.000 siswa tahun ini. Namun, angka itu dinilai belum mencukupi, terutama untuk kota-kota besar yang terus mengalami pertumbuhan penduduk dan lulusan SMP.
Darlis menegaskan bahwa solusi bukan sekadar menambah rombel, tetapi juga mempercepat pembangunan sekolah baru. Menurutnya, perluasan infrastruktur pendidikan adalah keharusan jika ingin menjaga mutu dan pemerataan pendidikan.
Ia juga menyoroti ketimpangan akses pendidikan di pedalaman. Meski jumlah lulusan SMP di desa-desa terpencil hanya belasan, Darlis menekankan pentingnya menyediakan akses lanjutan. Ia menyarankan pola pembelajaran jarak dekat bekerja sama dengan sekolah induk sebagai alternatif pembangunan sekolah filial.
“Pemerintah wajib hadir, meski muridnya hanya 10 orang. Bisa dengan model jarak dekat tanpa harus membangun gedung baru,” jelasnya.
Biaya transportasi siswa di pedalaman yang tinggi juga disebut sebagai penghambat utama. Banyak siswa harus menempuh jarak jauh ke kota kecamatan hanya untuk bisa mengakses pendidikan menengah.
Dalam hal seleksi Penerimaan Murid Baru (PMB), Darlis mendukung sistem empat jalur—zonasi, prestasi, afirmasi, dan mutasi—sebagai pendekatan yang lebih adil ketimbang sistem zonasi murni. Ia pun mengingatkan perlunya pengawasan terhadap potensi manipulasi data, seperti pindah domisili fiktif demi masuk sekolah negeri.
“Dengan jalur afirmasi dan prestasi, tak perlu lagi akal-akalan pindah alamat hanya demi masuk sekolah favorit,” tegasnya.
Ia menutup dengan imbauan agar peningkatan kapasitas sekolah dibarengi peningkatan kualitas. “Kalau mutu sekolah negeri naik, output lulusan juga akan lebih baik,” tandasnya.(Adv)
































