SINTESANEWS.ID – Pemulihan 75 kepala keluarga (KK) terdampak kebakaran di Kelurahan Melayu, Tenggarong, menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Pemerintah tidak hanya menyalurkan bantuan kebutuhan dasar, tetapi juga menyiapkan langkah jangka panjang untuk memperbaiki kesiapsiagaan kebakaran di kawasan padat penduduk.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menyampaikan hal tersebut saat meninjau lokasi kebakaran di Jalan AM Alimuddin sekaligus menyerahkan bantuan kepada warga, Kamis (8/10/2026).
Ia menyebut proses pemulihan harus mencakup kebutuhan fisik dan psikologis warga. Untuk tahap awal, pemerintah memprioritaskan kebutuhan pangan, perlengkapan memasak, kebutuhan sekolah, serta perlengkapan kerja bagi warga yang kehilangan barang akibat kebakaran.
“Jangan sampai warga kesulitan kembali beraktivitas karena kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Kami meminta jajaran terkait memastikan bantuan diberikan berdasarkan kebutuhan yang disampaikan masyarakat,” ujar Aulia.
Salah satu kebutuhan yang muncul dalam proses pemulihan adalah peralatan memasak. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah daerah berkoordinasi dengan Baznas melalui Plt Camat Tenggarong guna menyalurkan bantuan perlengkapan memasak.
Aulia menilai, bantuan harus memperhatikan kebutuhan yang saling berkaitan. Ketersediaan bahan makanan, misalnya, perlu diikuti peralatan yang memungkinkan warga mengolah makanan tersebut.
Di lokasi kebakaran, relawan juga membantu menyediakan makanan melalui dapur umum yang didukung BPBD dan petugas pemadam kebakaran. Aulia mengapresiasi keterlibatan para relawan serta jajaran pemerintah yang membantu sejak awal kejadian.
Pemulihan juga akan menyasar kondisi psikologis warga. Aulia meminta pihak kelurahan bersama komunitas masyarakat memantau kondisi keluarga terdampak untuk memastikan tidak ada warga yang terlewat dari pendampingan.
Menurutnya, kehilangan tempat tinggal dan harta benda dapat meninggalkan beban emosional yang perlu mendapat perhatian.
“Setelah bencana, kita harus hadir bukan hanya untuk memperbaiki kerusakan yang terlihat, tetapi juga mendampingi warga menghadapi dampak yang mereka rasakan,” katanya.
Untuk jangka pendek, pemerintah berupaya menjaga agar kegiatan sehari-hari warga tetap berjalan. Anak-anak yang kehilangan perlengkapan sekolah akan menjadi perhatian, begitu pula warga yang membutuhkan peralatan untuk kembali bekerja.
Sementara itu, pemulihan jangka menengah dan panjang akan disesuaikan dengan kewenangan pemerintah daerah, termasuk melalui penataan kawasan agar lebih siap menghadapi risiko bencana.
Kebakaran tersebut turut menjadi bahan evaluasi terhadap akses kendaraan pemadam dan ketersediaan air di kawasan permukiman padat.
Menurut informasi yang diterima Aulia dari Kepala Damkar, pemadaman berlangsung sekitar dua jam, sedangkan penanganan kebakaran pada umumnya dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 30 menit.
Aulia menyebut kesulitan akses menuju kawasan permukiman menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani. Pemerintah daerah pun berencana mengoptimalkan dana RT pada 2027 untuk mendukung penyediaan air dan sistem pengairan di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
“Kebutuhan setiap RT tidak sama. Karena itu, kita perlu melihat kondisi masing-masing wilayah dan menentukan kebutuhan yang paling mendesak, termasuk sarana pendukung untuk menghadapi kebakaran,” ungkapnya.
Ia memastikan dana RT tahun depan tidak dikurangi. Penggunaannya akan dioptimalkan sesuai kebutuhan wilayah, termasuk untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Kita berharap pemulihan warga dapat berjalan lebih cepat untuk mendorong perbaikan sistem penanganan kebakaran agar kejadian seperti ini dapat ditangani dengan lebih baik,” tutupnya. (Adv/Ja)
































