Home » Politik » Nasional » Beda Kelas Anies Baswedan dan Giring Ganesha

Beda Kelas Anies Baswedan dan Giring Ganesha

Selasa,18 Januari 2022 06:00WIB

Bagikan :
Manuver Gubernur DKI Anies Baswedan menyaksikan Nidji di Jakarta International Stadium menunjukkan perbedaan kelas politiknya dari Ketum PSI Giring Ganesha. Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino

Jakarta, CNN Indonesia — Manuver Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyaksikan aksi ‘spektakuler’ Nidji di Jakarta International Stadium (JIS) menunjukkan perbedaan kelas politiknya dari Ketua Umum PSI Giring Ganesha.

Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran Kunto Adi Wibowo menganggap wajar dan lumrah jika Anies bermanuver untuk menyindir balik lawan politiknya di DKI Jakarta itu.

Dalam perspektif komunikasi politik, kata Kunto, seorang tokoh politik memang tidak bisa terus berdiam diri ketika mendapatkan kritikan maupun ejekan dari lawan politiknya.

Hanya saja, dalam merespon hal tersebut tokoh politik juga tidak boleh bersifat reaksioner atau menunjukan emosi berlebihan. Pasalnya, alih-alih mendulang sentimen publik cara respons seperti itu dinilai Kunto hanya akan mencederai citra politiknya sendiri.

“Dalam komunikasi politik, seorang tokoh tidak bisa diam saja ketika terus menerus dikritik, diejek atau disindir. Namun yang tidak boleh itu sangat reaksioner, atau menunjukkan emosi berlebihan sampai marah,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, semalam (17/1).

Kunto menilai cara Anies menyindir balik Giring PSI dengan mengundang grup band Nidji merupakan langkah cerdas. Termasuk menyematkan diksi ‘suara merdu, tidak sumbang’ dalam sanjungannya.

Direktur Eksekutif KedaiKOPI ini menilai, langkah sederhana Anies tersebut tepat sasaran dan berhasil meraih atensi publik. Mengingat, Giring yang merupakan eks vokalis Nidji, acapkali ‘bersuara’ terhadap apapun yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta itu.

“Menurut saya apa yang dilakukan Pak Anies sesuatu yang cerdas. Ini jelas dibaca secara metafora oleh publik maupun oleh Giring sendiri sebagai sebuah sindiran atau kritik balasan yang dilakukan Anies Baswedan,” tuturnya.

Beda Kelas Anies dan Giring

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah menilai langkah cukup berani yang dilakukan Anies itu lantaran ia sudah mulai ‘gerah’ dengan pelbagai sindiran atau ejekan dari PSI, terutama dari Giring.

Dugaan kekesalan itu, kata dia, semakin menguat apabila melihat diksi ‘sumbang’ yang dipilih oleh Anies. Ia menduga, sindiran tersebut memang ditujukan secara khusus kepada Giring.

“Ada indikasi Anies mulai terpancing dengan tekanan komentar PSI, terutama dari Giring Ganesha. Dan bisa jadi sebenarnya itu yang diharapkan oleh PSI, agar ikut meningkat popularitasnya dengan Anies,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/1).

Dedi mengatakan, balasan sentilan semacam ini sesekali memang perlu dilakukan Anies terhadap lawan politiknya untuk menjaga ritme popularitasnya sendiri. Hanya saja, ia tidak menyarankan kejadian ini terjadi berulang kali dan berlebihan.

Meski begitu, diakui Dedi, sindiran halus dari Anies tersebut cukup berhasil mendapatkan sentimen publik dalam merespons riuh yang selama ini ditimbulkan oleh PSI. Sementara kesan intelektualitas yang selama ini disandang Anies masih tetap dapat terjaga.

“Respons halus ini berhasil memantik publik, tanpa harus kehilangan kesan intelektualitas yang selama ini disandang Anies. Ia tetap dalam koridor elegan dan santun,” tuturnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) itu menilai, terdapat perbedaan yang cukup kentara dari segi komunikasi politik antara Giring dengan Anies.

Giring dalam banyak kesempatan memang sering mengkritik Anies secara menggebu-gebu di hadapan publik. Akan tetapi menurutnya, kebanyakan materi kritik PSI terkesan bias dan tidak terarah secara substantif, sehingga tidak memiliki narasi yang cukup kuat.

“Itulah sebabnya mengapa perbedaan itu terlihat jelas, dan juga tentu sangat jauh membandingkan Anies dengan Giring,” kata Dedi.

Dedi menilai, langkah Giring yang terlalu sering mengkritik Anies juga menimbulkan kesan negatif terhadap dirinya sendiri. Sebab, cara tersebut justru menihilkan posisinya sebagai ketua umum parpol yang seharusnya berhadapan dengan presiden ataupun merespons kebijakan-kebijakan pemerintah.

“Untuk level Gubernur semestinya cukup Ketua DPW (Dewan Perwakilan Wilayah) partai. Di sini menunjukkan bahwa Giring tidak memahami kekuasaannya sendiri sebagai ketua umum parpol,” tegasnya.

Pengamat politik Unpad Kunto Adi Wibowo juga menganggap gaya Anies dalam membalas kritik Giring maupun PSI menunjukkan level kematangan politik yang lebih tinggi. Hal itu juga jadi cara Anies memposisikan diri sebagai sosok politisi yang berbeda dengan Giring.

“Apa yang dilakukan oleh Anies ini menunjukkan kualitasnya dirinya sebagai politisi. Bahwa sindiran, ejekan, tidak harus dibalas dengan sama ketusnya, tapi cukup sindiran yang halus,” jelasnya.

“Pak Anies paham dengan budaya Indonesia, budaya politik yang sangat kental dengan nuansa budaya Jawa-nya. Bahwa sindiran halus tersebut lebih mengena daripada harus marah-marah,” imbuh Kunto.

Kendati demikian, Kunto menampik apabila manuver politik Anies tersebut merupakan suatu yang baru dan khusus dilakukan terhadap Giring PSI.

Sebab, jika melihat rekam jejaknya, Anies memang tidak pernah secara frontal menyerang pengkritik atau lawan politiknya. Melainkan melalui sindiran-sindiran halus yang kerap disisipkan dalam pelbagai statement politiknya.

“Ini bukan perubahan pola komunikasi politik. Mungkin ini tingkat kreativitas Pak Anies menjelang 2024. Mungkin persiapan dia menjelang Pemilu 2024, sebagai taktik dan strategi politiknya begitu” pungkasnya.

(tfq/gil)

 

Sumber : https://www.cnnindonesia.com

6085768219885996691-min

TOPIK TERKAIT

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

3474362364620514386-min

TEKNOLOGI

TERPOPULER

HIBURAN

bannera

POLITIK