SINTESANEWS.ID – Bawang merah merupakan salah satu bumbu dapur yang penting dan banyak digunakan oleh masyarakat. Namun, harga bawang merah terus mengalami kenaikan sejak tahun 2023 hingga awal tahun 2024 ini. Hal ini membuat para pedagang di Pasar Tangga Arung, Tenggarong, resah karena sepi pembeli.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan harga bawang merah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain cuaca yang tidak menentu, pasokan bawang merah yang kurang, dan faktor kelancaran distribusi. Kenaikan harga bawang merah berdampak pada inflasi sebesar 42,83 persen dan menurunkan perekonomian masyarakat.
Salah seorang pedagang bawang merah di Tenggarong, Ase (47), mengeluhkan bahwa kenaikan harga bawang merah membuat pembelinya berkurang. Ia mengatakan bahwa banyak konsumen yang mencari bawang merah di tempat lain yang lebih murah.
“Awalnya sih lumayan ramai ada juga yang sudah langganan, sekarang mereka lebih memilih mencari di tempat lain yang lebih murah harganya,” kata Ase, Jumat (5/1/2024).
Ase menuturkan bahwa harga bawang merah terus naik sejak tahun 2023 hingga awal tahun 2024 ini. Pada tahun 2023, harga bawang merah berkisar antara Rp 28 ribu-Rp 30 ribu per kilogram. Pada awal tahun 2024, harga bawang merah melonjak menjadi Rp 40 ribu-Rp 45 ribu per kilogram.
Ase berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk menstabilkan harga bawang merah. Ia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan pertanian bawang merah di daerahnya agar tidak bergantung pada pasokan dari luar.
“Saya berharap pemerintah segera mengambil tindakan tentang masalah ini supaya harganya normal lagi. Harapannya sih pemerintah bisa mendorong pertanian di Kukar supaya kita tidak perlu lagi cari bawang sampai di luar daerah,” ucap Ase.
Pedagang lainnya, Winda (40), juga merasakan dampak dari kenaikan harga bawang merah. Ia mengaku kesulitan menjual bawang merah dengan harga tinggi. Ia mengatakan bahwa banyak pembeli yang kabur setelah mengetahui harga bawang merah.
“Baru saja ada pembeli pergi dia pergi setelah dengar harganya, dia diskusi dengan suaminya lalu pergi naik motor. Padahal saya sudah kasih harga miring, tapi tetap saja susah laku,” ujarnya.
Winda mengatakan bahwa bawang merah yang ia jual berasal dari Jawa dan Sulawesi. Ia berharap pemerintah bisa memberikan bantuan atau insentif kepada para petani bawang merah agar bisa meningkatkan produksi dan kualitasnya.
“Kalau pemerintah bisa bantu petani bawang merah, mungkin harga bisa turun dan pembeli bisa kembali. Saya juga ingin bisa jual bawang merah yang bagus dan murah, tapi kalau pasokannya mahal dan langka, mau gimana lagi,” tuturnya.(In)