SINTESANEWS.ID – Harga beras di Tenggarong, Kukar terus mengalami kenaikan sejak awal tahun 2024. Hal ini membuat pedagang dan pembeli merasa terpukul.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada bulan Januari 2024, harga beras mengalami kenaikan sebesar 0,64 persen, dengan kontribusi terhadap inflasi keseluruhan sebesar 0,03 persen.
Salah satu faktor penyebab kenaikan harga beras adalah kurangnya pasokan di sejumlah wilayah, terutama akibat faktor cuaca dan rusaknya beberapa akses jalan. Hal itu membuat distribusi untuk beberapa komoditas pangan menjadi terhambat.
Sarwiah (35), salah satu pedagang beras di Pasar Tangga Arung, mengaku harus mengurangi pasokan beras di tokonya akibat kenaikan harga beras.
“Tadinya saya membeli hingga 45 karung, sekarang saya hanya mengambil 40 karung saja,” ucapnya saat ditemui, Kamis (22/2/2024).
Ia juga menambahkan bahwa kenaikan harga perkilogram beras mencapai Rp. 1000-2000. Sementara pembelian perkarung dengan isi 25 kilogram yang awalnya sekitar Rp. 370 ribu sekarang mencapai Rp. 400 ribu.
“Belum lama ini harga beras hanya sekitar 15 ribu sampai 17 ribu saja perkilonya sekarang sudah naik dari harga 16 ribu sampai 18 ribu tergantung kualitasnya,” ungkapnya.
Sarwiah mengaku sering menerima keluhan para pembeli karena harga beras terus naik.
Kenaikan harga beras juga mempengaruhi daya beli masyarakat di tokonya sehingga ia harus memikirkan cara agar tidak sepi pembeli.
Sarwiah mengatakan bahwa beras yang ia jual di suplai dari tengkulak beras di Tenggarong.
“Jadi beras-beras yang di jual di toko ini kami beli langsung dari tangan pertama,” ujarnya.
Sarwiah berharap pemerintah segera mencari solusi untuk mengatasi kenaikan harga beras khususnya di Tenggarong sehingga baik pedagang maupun masyarakat tidak terbebani terlebih sebentar lagi akan memasuki bulan suci ramadhan.
“Semoga harga beras tidak naik lagi, karena kami para pedagang ikut merasakan dampaknya. Apa lagi sebentar lagi puasa,” pungkasnya. (ir/ar)