SINTESANEWS.ID – Pengamat politik Indonesia Rocky Gerung mengomentari reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Jokowi. Komentar tersebut disampaikannya lewat kanal YouTube Rocky Gerung Official, Rabu (15/6/22).
Ia mengatakan, sebenarnya masyarakat tidak peduli dengan apa pun yang terjadi di Istana. “Orang menganggap bahwa apa yang ada di Istana itu realitas semu. Realitas di bawah (masyarakat), harga cabek yang tinggi,” sebutnya.
Rocky menyebutkan bahwa berdasarkan informasi masyarakat, harga cabek di Jakarta naik berkali-kali lipat, sehingga mencapai Rp 150 ribu per kilogram.
Kemudian, Rocky melanjutkan, rushuffle ini sebenarnya upaya Jokowi mengonsolidasikan kekuatan untuk melawan Anies.
“Kenapa pengganti Lutfi dengan orang dari PAN? Karena PAN punya potensi mendukung Anies. Kalau misalkan PAN ngambek, pasti ngambeknya pergi ke Anies kan,” tuturnya sambil tersenyum.
Ia juga menceritakan bahwa Anies dan Sofyan Djalil berada pada blok Yusuf Kalla. Seluruh potensi Yusuf Kalla untuk mendukung Anies itu “difilter” melalui reshuffle kemarin.
“Jokowi pasang filter habis-habisan supaya Anies tidak lolos dengan calonnya Pak Jokowi,” bebernya.
Menariknya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) selalu memberi sinyal agar Luhut Binsar Pandjaitan “disingkirkan” dari Istana. Namun, Jokowi tidak menggantinya.
“Jadi, buat apa kader PDIP sudah meraung-meraung ke Pak Luhut, tetapi ternyata Pak Luhut tetap tenang berada di situ?” ucapnya.
Rocky menuding ada kepalsuan dalam penggantian menteri-menteri tersebut. Reshuffle mestinya menghasilkan menteri yang dapat mengeluarkan kebijakan yang tidak bernuansa politis.
Tetapi, kenyataannya reshuffle ini kental dengan tukar menukar kepentingan politik antar elite Jakarta. “Bahayanya, karena tukar tambah politik, jadi aspek-aspek ekonomi makro, aspek-aspek untuk mengatasi kesulitan ekonomi Indonesia, itu tidak akan diperhatikan lagi,” tudingnya.
Zulkifli Hasan yang merupakan Ketua Umum PAN diangkat menjadi Menteri Perdagangan. Namun, dalam pikirannya, kata Rocky, kepentingan politik tahun 2024 lebih penting daripada mengurusi masalah-masalah perdagangan di Indonesia.
“Perdagangan gampang saja. Tinggal impor. Ekspor apa? Enggak ada yang diekspor karena pasar dunia tidak akan serap,” paparnya.
Dia menegaskan, kebijakan politik di Indonesia masih berpijak pada suka dan tidak suka (like and dislike) pada seseorang. Bukan pada aspek kompetensi dan kemampuan membenahi kebijakan.
Kata Rocky, hal ini merupakan gaya politik khas keraton. “Jadi, tidak fokus pada apa yang mau dikerjakan ke depan itu,” simpulnya.
Diketahui, sebelum pelantikan dua menteri dan tiga wakil menteri di Istana, Presiden Jokowi melakukan pertemuan dengan para ketua umum partai politik yang merupakan koalisi pemerintah.
Di antaranya Ketua Umum Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa, hingga Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (*)
Penulis: Halimatu