Home » Kolom » Kebencian Zionis Israel terhadap Umat Kristen Palestina

Kebencian Zionis Israel terhadap Umat Kristen Palestina

Senin,25 April 2022 04:17WIB

Bagikan :

Oleh: Felix Irianto Winardi*

Terdapat dua video yang berasal dari dua sumber berbeda yang menampilkan pelecehan terhadap umat Kristen Palestina yang berniat merayakan “Holy Saturday” di gereja Makam Yesus. Dalam tulisan “Facis” sudah dicatat bahwa orientasi facis pertama-tama didasari oleh kebencian satu kelompok terhadap kelompok lain. Kebencian tidak pernah punya dasar rasional, selain penilaian ekstrim negatif terhadap pihak lain yang berbeda. Penilaian negatif menutup mata hati sehingga tidak memungkinkan seseorang untuk melihat kebaikan dalam diri sesamanya yang berbeda. Sasaran kebencian bisa siapa saja. Kali ini sasaran kebencian itu adalah umat Kristen Palestina.

Setelah melecehkan umat Islam secara brutal di dalam Masjid al-Aqsa, hari Sabtu, 23 April 2022 yang baru lalu, aparat Israel juga melecehkan umat Kristen. Obyek kebencian memang bisa siapa saja. Tetapi penderita kebencian itu jelas, yaitu orang dan atau kelompok dengan kemampuan refleksi terbatas. Bisa saja kelompok pembenci itu terdiri dari orang-orang yang IQ tinggi, tetapi memiliki SQ rendah yang membuat EQ-nya juga sangat rendah. Ini masalah besar.

Orang dengan SQ dan EQ rendah tetapi memiliki IQ tinggi pada umumnya memiliki kemampuan berefleksi rendah sehingga cenderung a-sosial. Mereka tidak punya kemampuan untuk melihat diri sendiri dalam sesama manusia. Maka sama sekali tidak mengherankan jika kelompok itu tidak bisa berdiskusi. Mereka selalu merasa diri serba hebat dan selalu benar.

Kebencian membuat mereka buta mata dan buta hati. Dan asyik dengan diri sendiri, asyik dengan pikirannya sendiri, asyik dengan cita-citanya sendiri. Demikian mereka menjadi kurang manusiawi. Manusia-manusia seperti itulah yang kemudian melihat sesamanya sebagai musuh yang harus dihabisi dengan cara yang paling keji jika perlu. Tanpa alasan mereka berkesimpulan. Kondisi itulah yang mendasari arogansi pemimpin-pemimpin Zionis-Israel yang diamini oleh mayoritas rakyat Israel.

Pemilihan sasaran kebencian pun muncul begitu saja, tanpa landasan obyektif sedikit pun, semata-mata hanya sekedar membenci. Semakin menderita orang yang dibenci, semakin puas pula mereka. Mereka mengindap kelainan jiwa kronis yang menyukai kekerasan.

“Penyakit” itu mewujud nyata dalam beragam bentuk ekstrim seperti facis, apartheid, supremasi-kulit-putih, dll. Semua bermuara dalam tindak kekerasan dengan metode terorisme.

Dalam kondisi “sakit” itulah Zionis-Israel menentukan bahwa sasaran kebenciannya adalah Palestina. Apa pun yang berhubungan dengan Palestina membuat mereka resah dan tertekan hebat. Keresahan itu membuat mereka tidak bisa mengendalikan diri dan menjadi sangat agresif. Mereka bisa menyerang siapa saja yang terkait Palestina, tanpa perlu alasan sedikit pun. Mereka membutuhkan sasaran untuk menumpahkan kebenciannya. Tentu Anda masih ingat bagaimana Rachel Corrie dibunuh secara brutal hanya karena gadis itu terlanjur diberi label pembela Palestina atas dasar kemanusiaan, padahal dia adalah warga AS.

Tak perlu heran jika para facis ekstrim kanan Isreal dengan dukungan otoritas Zionis-Israel selalu melakukan tindak kekerasan tanpa alasan. Mereka memang membutuhkan kekerasan dalam pelbagai bentuk sekedar sebagai pelampiasan, pemuas nafsu mereka. Hidup berdampingan dengan yang berbeda dalam keadaan damai, sangat menekan batin mereka. Mereka sangat gelisah jika melihat sesama yang berbeda hidup dalam damai sejahtera.

Berhadapan dengan orang-orang “sakit” tentu bukan hal sederhana, karena logika mereka adalah logika kebencian dan kekerasan. Itulah yang harus terus dihadapi oleh rakyat Palestina selama berpuluh-puluh tahun. Anak-anak, para perempuan orang-orang lanjut usia Palestina pun harus menghadapi orang-orang “sakit” itu dalam kesehariannya.

Tentu saja tidak semua warga negara Israel “sakit”. Kita mudah menemukan sejumlah Yahudi warga Israel yang sangat prihatin dengan kondisi itu. Mereka membela rakyat Palestina dengan sepenuh hati demi kemanusiaan. Sebaliknya tidak sedikit orang di luar Israel yang justru tertular penyakit sehingga membela “orang-orang sakit Israel” secara membabi-buta.

Salam. Semoga damai berkeadilan segera terwujud. GBU. (*Pendeta Indonesia yang Konsen Menentang Pendudukan Zionis Israel terhadap Tanah Palestina)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6085768219885996691-min

TOPIK TERKAIT

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

3474362364620514386-min

TEKNOLOGI

TERPOPULER

HIBURAN

bannera

POLITIK