Home » Politik » Mancanegara » Penyebab Pesawat Boeing 737-800 Milik China Eastern Jatuh hingga Hancur Berkeping-keping

Penyebab Pesawat Boeing 737-800 Milik China Eastern Jatuh hingga Hancur Berkeping-keping

Selasa,22 Maret 2022 10:19WIB

Bagikan :
Puing-puing Boeing 737-800 milik China Eastern Airlines yang jatuh pada Senin (21/3/2022) sore. (Istimewa)

Jakarta, sintesanews.id – Peristiwa jatuhnya pesawat terbang kembali terjadi pada Senin (21/3/2022) sore waktu setempat. Kali ini menimpa Boeing 737-800 milik China Eastern Airlines.

Pesawat yang mengangkut 132 orang itu seharusnya menuju Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong, dari Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan. Diketahui, MU5735 meninggalkan Kunming pukul 13.11.

Seharusnya pesawat mendarat pukul 15.05. Namun, MU5735 tersebut hilang kontak di atas Kota Wuzhou, Wilayah Otonom Guangxi Zhuang.

Pesawat itu diketahui jatuh di area pegunungan. People’s Daily mengutip seorang pejabat departemen pemadam kebakaran provinsi yang mengatakan tidak ada tanda-tanda korban selamat di antara puing-puing.

Lalu apa penyebabnya? Pihak China Eastern mengatakan, penyebab kecelakaan masih diselidiki. Para ahli menyebut masih terlalu dini menarik kesimpulan tentang penyebab potensial, mengingat langkanya informasi.

Namun, dari segi usia, pesawat itu baru berumur enam tahun. Penerbangan pesawat sehari sebelumnya juga memulai penurunan normal dari ketinggian yang sama dan mendarat dengan selamat.

Tapi, dari data FlightRadar24, China Eastern yang jatuh sempat turun cepat ke 7.425 kaki sebelum pulih sebentar ke 8.600 kaki, dari ketinggian 29.000. Namun kemudian turun lagi.

Kejadian itu terjadi sekitar pukul 14.22 waktu setepat. Flight Radar24 tak mencatat data lagi setelah itu. “Ketinggian yang dilacak terakhir adalah 3.225 kaki di atas permukaan laut,” tulis Reuters.

Mengutip The Sun yang meminta keterangan ahli, kemungkinan pilot tak berdaya menyelamatkan pesawat. Sebab, terjunnya pesawat setinggi itu akan membuat penumpang dan awak tidak sadarkan diri.

“Sementara gaya gravitasi dari terjun 6.000 meter akan menjatuhkan pilot, data penerbangan mungkin telah menunjukkan 10 hingga 20 detik di mana satu atau lebih pilot sadar dan mencoba menyelamatkan pesawat,” kata komentator penerbangan Sally Gethin.

Namun, ia mengaku kesimpulan itu belum tentu benar. Pesawat Boeing 737-800 selama ini dikenal memiliki sistem keamanan terbaik.

Sebenarnya kecelakaan selama fase penerbangan pelayaran relatif jarang meskipun periode ini menyumbang sebagian besar waktu di sebuah penerbangan. Kecelakaan selama tahap penurunan, ketika pesawat pertama kali meninggalkan ketinggian jelajah, bahkan lebih jarang terjadi.

Berdasarkan data Boeing tahun lalu, yang diambil dari 2011 hingga 2020, 13% kecelakaan fatal terjadi saat fase pelayaran, sementara 17% saat turun. Sebanyak 28% kecelakaan terjadi saat pendekatan akhir dan 26% pendaratan. (CNBCIndonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6085768219885996691-min

TOPIK TERKAIT

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

3474362364620514386-min

TEKNOLOGI

TERPOPULER

HIBURAN

bannera

POLITIK