Home » Politik » Mancanegara » Fenomena yang Luar Biasa dalam Perang Rusia-Ukraina

Fenomena yang Luar Biasa dalam Perang Rusia-Ukraina

Sabtu,26 Maret 2022 08:40WIB

Bagikan :
Tentara Chechya berperang di Ukraina. (Istimewa)

Oleh: Dina Sulaeman*

Video ini kompilasi 3 video yang saya dapatkan dari channel Telegram. Karena sumber-sumber informasi dari Rusia diblokir sana-sini, mereka pun bergerilya di Telegram. Di bagian awal adalah video dari channel Ramzan Kadyrov. Videonya tidak ada subtitle, saya tidak tahu artinya. Tapi ada pengantar dari Kadyrov di video tersebut (di Telegram).

Isinya begini, “Tentara kami berjuang di Mariupol. Di bawah peluru, prajurit Rusia (Chechnya) menyelamatkan penduduk sipil, sementara militer Ukraina tidak mempedulikan mereka. Misi berlangsung dalam kondisi yang sulit. Komando di daerah ini dipegang oleh saudaraku tersayang, Timur Ibriev”.

“Titik panas ini juga dikunjungi oleh jurnalis dari media Izvestia, yang merekam kejadian yang rumit dan berbahaya ini. Saat wawancara, sebuah peluru tank terbang ke gedung lima lantai di belakang Timur dan meledak. Sebuah kepingan mengenai salah satu pejuang, tetapi tersangkut di sabuk senjata”.

“Kamera menangkap ketenangan dari saudaraku tersayang, Timur. Dia tidak goyah, dia tidak merunduk. Kalian pasti bangga pada pejuang teguh dan pemberani seperti ini! Timur, saudaraku, jaga dirimu dan para prajurit!”

Perhatikan di video tersebut, medan pertempuran adalah kawasan rusun (rumah susun). Tentara Chechnya menembak ke arah rusun itu. Mengapa? Karena tentara Ukraina (terutama unit Azov dan Aidar yang berideologi neo-Nazi) bersembunyi di rumah-rumah itu, sementara ada warga sipil di dalamnya. Pertempuran menjadi rumit karena warga sipil juga harus dilindungi oleh tentara Rusia/Chechnya.

Anda bisa lihat, tentara Chechnya mengawal warga sipil keluar dari rusun. Video semacam ini banyak ditemukan di channel Telegram: tentara Rusia/Chechnya mengevakuasi rakyat sipil dari rusun-rusun di Donbass (Ukraina timur).

Sejak 2014, militer Ukraina melancarkan “perang melawan terorisme,” memerangi warga mereka di kawasan Ukraina timur yang mayoritasnya etnis Rusia. Warga etnis Rusia di Ukraina timur ini sejak 2014 memerdekakan diri dan memang bisa disebut “separatis,” tapi mereka warga sipil. Apakah mereka harus dihadapi dengan pembantaian oleh militer dengan senjata berat?

Perjanjian sudah diupayakan (Minks Agreement), tapi tak dipatuhi rezim Kiev. Selama 8 tahun, lebih dari 14.000 warga sipil di Donbass tewas. Warga Donbass melawan, dari berbagai kalangan, guru, teknisi, buruh, angkat senjata untuk membela diri dan keluarga.

Kondisi di Donbass jelas jauh berbeda dengan Papua (ada tuh, yang berusaha menyama-nyamakan dengan Papua). Memang ada anasir separatis di Papua dan ada kasus-kasus kekerasan yang dilakukan TNI (dan sebaliknya, kekerasan KKB terhadap TNI), tapi secara umum Papua diistimewakan, APBD-nya termasuk yang tertinggi, putra daerah diangkat jadi pejabat, dan pembangunan tetap dilakukan. Memang, ada sebagian dari warga Papua yang miskin atau tertinggal, tapi bukankah hal yang sama juga terjadi di provinsi-provinsi lain?

Di Donbass, yang terjadi benar-benar pembantaian massal, yang dipicu oleh ideologi ultra-kanan yang sangat-sangat ekstrem, yaitu neo-Nazi, yang sangat benci pada etnis Rusia. Mereka satu negara, tapi karena beda etnis, luar biasa kebenciannya.

Terbukti, saat perang melawan Rusia, neo-Nazi itu tega menjadikan warga Ukraina timur itu jadi tameng manusia. Di video ini, wartawan menanyai warga sipil yang sudah diungsikan itu. Silakan simak saja, sudah saya kasih terjemahan. Perhatikan, bahkan anjing peliharaan pun ikut diselamatkan.

Lalu, di bagian akhir video, ada dua gadis kecil di atas bis melambaikan tangan. Mereka dan sang ibu akan dievakuasi. (Keterangan di Telegram menyebut: ayah mereka tinggal untuk berperang melawan kelompok neo-Nazi itu). Menyedihkan sekali.

Perang pastilah penuh cerita sedih. Tapi, ada fenomena yang menurut saya luar biasa. Tentara Chechnya itu kan Muslim. Sementara yang sedang berperang ini, sama-sama umat Kristiani, sama-sama Eropa (orang Ukraina-etnis Ukraina versus orang Ukraina-etnis Rusia). Tapi tentara Chechnya rela mengorbankan nyawa untuk membebaskan warga sipil Kristiani-etnis Rusia itu. Ini luar biasa. Sangat kontras dengan “jihadis” di Suriah, yang membantai umat Kristiani, Syiah, dan Sunni. Pokoknya, yang tidak segolongan akan mereka anggap kafir dan halal darahnya.

Hikmahnya: jangan menggeneralisasi. Ada Muslim ekstrem, ada Muslim yang rahmatan lil ‘alamin. Ada juga Kristiani ekstrem dan melakukan aksi-aksi teror, ada Kristiani yang penuh cinta kasih. Ada Yahudi yang jahat (Zionis), tapi banyak juga Yahudi yang anti-Zionis. Di setiap agama/aliran ada saja kelompok ekstremnya.

Artinya, perlawanan terhadap ekstremisme dan terorisme tidak bisa digeneralisasi. Yang jadi parameter bukan agamanya, tapi perilakunya. Kalau teroris, mau agamanya apa, ya tetap teroris. (*Pengamat Timur Tengah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6085768219885996691-min

TOPIK TERKAIT

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

3474362364620514386-min

TEKNOLOGI

TERPOPULER

HIBURAN

bannera

POLITIK