Home » Politik » Nasional » Pawang Hujan di MotoGP Mandalika, Strategi Promosi Khasanah Budaya Nusantara

Pawang Hujan di MotoGP Mandalika, Strategi Promosi Khasanah Budaya Nusantara

Senin,21 Maret 2022 03:11WIB

Bagikan :

Oleh: Leonita Lestari*

Apa pun bungkusan dari event MotoGP Mandalika, ujung-ujungnya adalah bisnis dan investasi. Apa pun wujudnya.

Ketika panggung itu dilihat oleh 400 juta pasang mata dari 192 negara dan disiarkan secara langsung oleh lebih dari 200 stasiun TV, tak bisa diingkari bahwa itu adalah panggung besar.

Siapa pun panitia penyelenggara event itu haruslah sosok profesional. Karena itu panggung, dia haruslah ahli dalam bidang teknik seni pertunjukan. Dan karena itu bermakna seni, kreativitas dan improvisasi mumpuni harus dimiliki.

Bayangkan bila pada sebuah gelaran Elton John menggigit lidahnya sendiri karena terlalu serius mengunyah permen karet misalnya. Padahal, pada pertunjukan tersebut dia adalah artis utama.

Mundur 30 menit dari jadwal yang telah di-setting bukanlah pekerjaan mudah. Itu butuh sosok mumpuni agar pertunjukan tetap berjalan sesuai target.

Mengubah potensi kerugian menjadi keuntungan, ini cerita lain lagi. Di sana butuh sosok manager panggung yang tak mudah terintimidasi.

Bukan hanya tak sigap, panitia pada event MotoGP Mandalika justru berhasil menuai berkah pada kondisi tak menguntungkan itu.

Improvisasi kreatif dengan menampilkan sosok pawang hujan bernama Rara saat balapan motor itu harus dihentikan karena hujan sangat deras, menjadi trending topik dunia.

Serta-merta mata dunia terpalingkan dari hujan dan rasa penat menunggu berubah menjadi momen mengasyikkan. Sensasi kebaruan yang tak pernah mereka bayangkan ada, hadir seketika di depan matanya. Seorang perempuan tampil dalam aksi menghentikan atau memindahkan hujan.

Tak perlu kita berdebat terkait efektifitas dari aksinya dilihat dari sisi logis atau bahkan mistis. Itu adalah improvisasi cerdas sebagai upaya membuat orang tetap terhibur dalam konteks seni pertunjukan.

Hasilnya, hampir semua penonton di seluruh dunia membicarakannya. Nama Rara melejit dan Indonesia sebagai tuan rumah event MotoGP seri kedua kejuaraan dunia 2022 menjadi pembicaraan.

Dalam konteks panggung tersebut sebagai media promosi, tak bisa disangkal bahwa itu jelas adalah keberhasilan. Tidak terlalu berlebihan bila kelak akan disebut dengan kesuksesan tingkat dewa.

Kenapa? Itu sangat iconic. Sangat membekas dalam ingatan kolektif dunia sebagai satu-satunya kejadian unik dan pertama kali terjadi dalam sebuah event MotoGP. Dan luar biasanya, itu terjadi di Indonesia.

Seumur hidup, peristiwa itu akan terus dibicarakan. Akan ada usaha dari banyak tuan rumah dalam event apa pun dari negara lain mencoba mengadopsi teori itu demi memperkenalkan budayanya. Dan itu adalah promosi. Itu adalah bisnis.

“Apa enggak justru mempermalukan negara kita karena masih percaya klenik di tengah usaha banyak negara yang bahkan sudah membidik Mars sebagai targetnya?” tanya sebagian orang.

Masyarakat Jepang dengan kemampuan teknologinya yang sangat-sangat tinggi pun hingga kini masih memelihara tradisi yang sama demi menolak hujan. Tidak ada yang bilang bahwa tradisi itu memalukan.

Hanya kaum munafik saja yang berbicara bahwa itu memalukan. Seperti anak-anak yang mendapat mainan baru, maka mainan lama pun mereka buang. Itulah makna mentalitas kekanak-kanakan. Jiwanya yang masih labil membuatnya hanya mampu berpikir satu langkah ke depan saja.

Orang tuanya sebagai pihak yang lebih bijak karena asam garam, justru akan menyimpannya dengan hati-hati. Mainan itu pernah membantu anaknya tumbuh dan berkembang.

“Serius itu bukan tindakan konyol?” tanyanya lagi. Event MotoGP adalah panggung yang sengaja dibuat dan diperuntukkan bagi usia dewasa atau yang mau berpikir dewasa. Anak rewel dan ngambekan, abaikan saja. Tidak ada sedikit pun hal baik akan muncul dari anak-anak yang lagi ngamuk. 

Dan pertunjukan ini sukses. Paling tidak, nama Indonesia menjadi lebih banyak disebut dan juga memiliki korelasi akan menjadi target untuk dikunjungi kelak.

Terlepas percaya atau tidak atas ritual tersebut, faktanya, tak lama setelah Rara beraksi, hujan berhenti. “IT WORKED”, itu ditulis dari laman resmi MotoGP.

Dan nama Rara tak kalah tenar dibanding Miguela Oliveira, pembalap dari Portugal yang berhasil berdiri di podium sebagai juara. 

Believe or not, hanya pada gelaran MotoGP Mandalika 2022 saja sosok tak terlibat balapan dibicarakan setara dengan sang juaranya. Nama Rara ada disebut. (*Catatan ini kami ambil dari utas penulis di Twitter. Kemudian mengubah beberapa kata, namun tak menghilangkan esensi dari catatan asli penulis)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6085768219885996691-min

TOPIK TERKAIT

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

3474362364620514386-min

TEKNOLOGI

TERPOPULER

HIBURAN

bannera

POLITIK