Home » Politik » Nasional » Umat Islam Indonesia masih Tertinggal, Haedar Nashir Serukan Jihad Ekonomi

Umat Islam Indonesia masih Tertinggal, Haedar Nashir Serukan Jihad Ekonomi

Kamis,12 Mei 2022 11:54WIB

Bagikan :

Bandung, sintesanews.id – Berpusat di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Seminar Pra Muktamar bertajuk “Peluang dan Tantangan Industri dan Pariwisata Halal”, Kamis (12/5/2022).

Narasumber seminar antara lain Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Uno, Wakil Bupati Bandung Sahrul Gunawan, Founder PT Paragon Nurhayati Subakat, Kepala Pusat Kajian Sains Halal LPPM IPB Khaswar Syamsu, Direktur LPHKHT PP Muhammadiyah Naddratuzzaman Hosen, dan Kepala Program Studi S3 Kajian Pariwisata UGM Hendrie Adjie Kusworo.

Saat memberikan pidato iftitah, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut bahwa tema ekonomi, bisnis dan wirausaha, terutama di bidang industri halal dan pariwisata adalah jihad fi sabilillah yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah. Mengingat di sektor ini, kaum muslimin masih tertinggal.

“Titik lemah umat Islam kita yang mayoritas di negeri ini termasuk di negara luar adalah di bidang ekonomi, bisnis, kewirausahaan sehingga kita biarpun secara teologis memiliki ideologi tentang khairu ummah dan ajaran kita adalah Islam yang ya’lu wala yu’la alaih, ajaran yang tertinggi dan terbaik, sempurna. Tapi dalam aspek ekonomi, bisnis, dan wirausaha, kita sebagai umat, sebagai komunitas besar masih lemah,” ungkapnya.

Haedar lalu menganggap pernyataan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla masih relevan. Pernyataan itu adalah anggapan bahwa dari 100 orang kaya di Indonesia, 10 orang di dalamnya adalah orang muslim. Sebaliknya jika ada 100 orang miskin, maka 88 di dalamnya adalah umat Islam.

“Saya yakin argumen ini bisa didukung data empirik. Kenyataannya bahwa umat Islam yang mayoritas di negeri ini belum bisa berkualitas secara politik, budaya, iptek dan lain sebagainya karena faktor utamanya yakni kita masih lemah secara ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan,” kata Haedar.

Maka dari itu, Haedar berharap seminar ini menghasilkan pandangan-pandangan baru yang bersifat praktis sehingga mampu menjadi gerakan yang dapat diaplikasikan dan dikapitalisasikan oleh Muhammadiyah.

Hal penting lainnya, menurut Haedar adalah membangun kesadaran dan alam pikiran umat Islam agar perjuangan di bidang ekonomi apa pun variannya betul-betul menjadi perhatian dan prioritas utama umat Islam.

“Kalau kita secara ummah, secara kolektif tidak menjadikannya sebagai sebuah harakah atau pergerakan yang itu sungguh-sungguh fokus lalu melipatgandakan, mengkapitalisasi motivasi dan usaha kita dan culture kita, maka apa yang selalu kita sebut sebagai ketertinggalan umat itu hanya akan selalu menjadi wacana seminar, ceramah, pidato,” kritiknya.

Maka dari itu, Haedar berharap seminar ini mengambil intisari dan berbagai masukan penting untuk dimusyawarahkan sebagai program strategis dalam Muktamar Muhammadiyah ke-48 pada November 2022.

“Saya yakin nanti seminar ini akan menghasilkan keputusan dan pandangan-pandangan penting, strategis tapi juga praksis sebagai bahan kita mengembangkan pariwisata dan industri halal sekaligus kreatif dan produktif untuk kepentingan bangsa,” tegasnya. (*)

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6085768219885996691-min

TOPIK TERKAIT

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

3474362364620514386-min

TEKNOLOGI

TERPOPULER

HIBURAN

bannera

POLITIK