SINTESANEWS.ID – Para petani di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengikuti kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Tikus pada Rabu (25/5/2022) pagi.
Kegiatan yang diselenggarakan di areal lahan milik Muhammad Anshori tersebut merupakan program dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini dipimpin oleh Kasi Perlindungan Tanaman Distanak Kukar yang juga menjabat sebagai Koordinator Sub Pengembangan Benih dan Perlindungan Tanaman, Taufik.
Gerdal kali ini diikuti oleh Kelompok Tani Mawar, Estu Lestari, Budi Darma, Satwa Jaya Mandiri, dan Tani Makmur. Anggota kelompok tani yang berpartisipasi dalam kegiatan ini berjumlah sekitar 30 orang.
Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Mekar Jaya, Hari Budiyanto mengungkapkan, kegiatan tersebut bertujuan mengurangi hama tikus di sawah. “Sehingga panen padi bisa maksimal,” ujarnya.
Sementara itu, Taufik menyebutkan bahwa tikus adalah OPT nomor satu di Indonesia. Hama ini dapat mengurangi hasil panen. Selain itu, penggerek batang juga berada di urutan kedua dalam merusak tanaman.
“Tikus lebih cepat perkembangbiakannya. Dari sepasang tikus bisa menghasilkan 1.200 ekor per tahunnya, bahkan umur 68 hari tikus sudah bisa berkembang biak dengan anak berjumlah 8-12 ekor dari sepasang tikus,” terangnya.
Kata dia, tikus menyerang padi sejak persemaian, persawahan, serta penyimpanan padi di gudang dan rumah-rumah warga.
Tikus juga cepat berkembang karena keberadaan perkebunan kelapa sawit yang mengelilingi areal persawahan di sejumlah desa di Kecamatan Sebulu.
Kawanan tikus menggunakan areal perkebunan kelapa sawit untuk tempat berlindung. Penanaman tanaman yang tidak serentak di sawah pun dapat memicu penambahan populasi tikus.
Taufik menjelaskan, pengendalian OPT tikus bisa dilakukan dengan cara menanam tanaman perangkap atau pemagaran di sekeliling sawah.
Bisa juga dengan cara pengumpanan menggunakan racun, pengumpanan memakai nabati seperti gadung yang disebar di galungan-galungan, tanam-tanaman serai, dan goprokan.
“Goprokan yang dilakukan tadi pagi yaitu gotong royong penangkapan tikus di areal sawah, baik yang belum pengolahan lahan atau sawah yang sudah bersih, sehingga memudahkan penangkapan tikus tersebut,” ungkapnya.
“Selain itu, melakukan pengumpanan dengan racun juga baik dilakukan, misalnya dengan petrokum. Bisa juga tiran atau pengemposan di lubang-lubang tikus yang masih aktif,” pungkasnya. (*)