SINTESANEWS.ID- Kelangkaan gas Elpiji 3 kg kembali terjadi di berbagai daerah, menyebabkan harga melonjak dan masyarakat harus antre berjam-jam untuk mendapatkannya. Kondisi ini bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi juga persoalan sosial yang mempengaruhi kehidupan perempuan secara langsung. Sebagai pengguna utama gas dalam rumah tangga dan sektor usaha kecil, perempuan harus menanggung beban ganda akibat krisis ini.
Gas Elpiji 3 kg, yang dikenal sebagai “gas melon,” adalah kebutuhan pokok bagi rumah tangga berpenghasilan rendah dan pelaku usaha kecil. Mayoritas penggunanya adalah perempuan, terutama ibu rumah tangga yang mengandalkan Elpiji untuk memasak sehari-hari. Ketika kelangkaan terjadi, perempuan terpaksa menghabiskan waktu lebih lama mencari gas, bahkan harus beralih ke alternatif yang lebih mahal atau berbahaya, seperti kayu bakar atau minyak tanah.
Dampak dari krisis ini sangat luas mengakibatkan beban ekonomi yang meningkat, harga gas yang biasanya berkisar Rp18.000–Rp22.000 per tabung kini melonjak hingga Rp30.000–Rp40.000 di beberapa daerah.
Bagi perempuan dari keluarga miskin, ini berarti harus mengurangi pengeluaran lain, termasuk misalnya makanan bergizi untuk keluarga, Banyak perempuan akhirnya kembali menggunakan kayu bakar atau minyak tanah untuk memasak.
Selain lebih mahal dan tidak efisien, penggunaan bahan bakar ini meningkatkan risiko penyakit pernapasan akibat asap beracun di dalam rumah. Di banyak daerah, perempuan harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan satu tabung gas.
Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja, mengurus anak, atau beristirahat, habis hanya untuk mengamankan kebutuhan dasar ini. Banyak usaha mikro yang dijalankan perempuan, seperti warung makan dan pedagang gorengan, sangat bergantung pada gas Elpiji 3 kg. Kelangkaan ini menyebabkan mereka kesulitan berproduksi dan harus menaikkan harga jual, yang pada akhirnya berisiko kehilangan pelanggan.
Belum lagi, baru baru ini terdapat Kasus Tragis Perempuan Menjadi Korban dari kelangkaan gas Elpiiji, Kelangkaan Elpiji 3 kg tidak hanya menimbulkan kesulitan ekonomi dan sosial, tetapi juga telah memakan korban jiwa. Beberapa insiden tragis yang terjadi baru-baru ini menunjukkan betapa seriusnya dampak dari krisis ini: Yonih (62), Warga Pamulang, Tangerang Selatan
Pada 3 Februari 2025, Yonih meninggal dunia setelah mengantre selama dua jam di bawah terik matahari untuk membeli gas Elpiji 3 kg.
Diduga, ia kelelahan akibat antrean panjang dan kondisi fisiknya yang tidak kuat. Sumber: Tempo.co, Tri Lestari (48), Warga Demak, Jawa Tengah
Pada 6 Februari 2025, Tri Lestari tewas terlindas truk saat berusaha mendapatkan gas Elpiji 3 kg yang langka di daerahnya. Insiden ini terjadi ketika ia mencoba menyeberang jalan setelah membeli gas, namun naas, ia tertabrak truk yang melintas. Sumber: IDN Times
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa kelangkaan Elpiji 3 kg tidak hanya menambah beban ekonomi dan sosial bagi perempuan, tetapi juga mengancam keselamatan dan nyawa mereka.
Teori Beban Ganda (Double Burden Theory) dalam kajian gender dan ekonomi. menjelaskan bahwa perempuan sering kali harus menjalankan dua peran sekaligus—yaitu sebagai pekerja produktif dalam sektor ekonomi (misalnya, dalam UMKM atau sektor informal) dan sebagai pekerja domestik yang bertanggung jawab atas urusan rumah tangga.
Dengan teori ini, kita bisa menegaskan bahwa kelangkaan Elpiji bukan sekadar masalah energi, tetapi juga memperdalam ketimpangan gender, karena menambah beban perempuan dalam berbagai aspek kehidupan mereka.
Kelangkaan ini bukanlah hal baru. Setiap tahun, masalah yang sama berulang, menunjukkan bahwa ada kegagalan dalam distribusi dan pengawasan Elpiji bersubsidi. Seharusnya gas 3 kg hanya digunakan oleh kelompok miskin, tetapi faktanya banyak orang mampu dan bahkan industri kecil menengah yang ikut menggunakannya. Mafia gas dan spekulan juga memperburuk keadaan dengan menimbun stok dan menaikkan harga secara tidak wajar.
Pemerintah seharusnya lebih tegas dalam pengelolaan Elpiji bersubsidi. Sistem distribusi yang lebih ketat, seperti penggunaan KTP atau kartu khusus untuk penerima subsidi, bisa menjadi solusi agar gas benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Maka tentunya Pemerintah harus meningkatkan pengawasan distribusi Elpiji 3 kg agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berhak, menyiapkan alternatif bahan bakar yang lebih stabil dan aman bagi perempuan, seperti mempercepat program konversi ke kompor listrik dengan skema subsidi yang tepat, mendukung UMKM perempuan agar tetap bisa berproduksi, misalnya dengan memberikan akses subsidi energi yang lebih jelas dan bantuan teknis dalam menghadapi krisis Elpiji.
Kelangkaan Elpiji 3 kg bukan hanya masalah pasokan, tetapi juga persoalan keadilan sosial dan gender. Perempuan, terutama dari kalangan ekonomi lemah, selalu menjadi korban utama dari kebijakan yang tidak berpihak pada mereka.
Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah konkret, maka krisis ini akan terus berulang dan memperparah ketimpangan sosial yang ada.
Saatnya negara benar-benar memastikan bahwa subsidi energi tidak hanya ada di atas kertas, tetapi nyata dirasakan oleh mereka yang membutuhkan-khususnya perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dan UMKM.
Oleh: Ellisa Wulan Oktavia
Fungsionaris Kohati PB HMI(*)