Home » Ekonomi » Bisnis » Mengenal NFT yang Bikin Ghozali Kaya Mendadak

Mengenal NFT yang Bikin Ghozali Kaya Mendadak

Selasa,18 Januari 2022 05:33WIB

Bagikan :
Non-Fungible Token (NFT) menjadi perhatian publik setelah Ghozali berhasil meraup cuan miliaran rupiah dari menjual foto selfie. Ilustrasi. (iStockphoto/Vertigo3d).

Jakarta, CNN Indonesia — Siapa yang tak kenal Sultan Gustaf AL Ghozali alias Ghozali Everyday? Pria berumur 22 tahun itu viral setelah ‘kaya mendadak’ dari penjualan swafoto (selfie) lewat non-fungible token (NFT).

Selfie bertajuk Ghozali Everyday dijual di platform marketplace OpenSea. Total cuan yang ia kantongi mencapai Rp1,5 miliar sejauh ini.

OpenSea adalah sebuah platform yang menyediakan ruang bagi penjual, pembeli, dan kreator aset digital untuk bertransaksi dengan mata uang kripto ethereum (ETH).

Awalnya, ia menjual foto selfie sebesar US$3 atau Rp42.600 (asumsi kurs Rp14.200 per dolar AS). Namun, harga selfie Ghozali terus meningkat seiring dengan popularitas yang kian menanjak.

Tak tanggung-tanggung, foto selfie milik Ghozali ‘laris manis’ dari harga 3 ETH atau sekitar Rp14 juta sampai 11 ETH atau Rp47 miliar.

Lantas, apa sebenarnya NFT dan apakah NFT tergolong investasi?

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Bitocto Milken Jonathan menjelaskan NFT adalah sebuah konten digital yang terhubung dengan sistem blockchain. Konten digital yang dimaksud, seperti foto, sertifikat, dan musik.

“Pada umumnya NFT mengubah sebuah konten digital seperti art, audio file, sertifikat digital, dan foto menjadi one of a kind aset digital yang bisa terverifikasi melalui blockchain,” papar Milken kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/1).

Lalu, sejumlah pihak mulai menggunakan NFT sebagai investasi dari aspek seni dan barang koleksi dalam bentuk digital. Sebagai contoh, seseorang membeli dan mengoleksi lukisan atau kartu pokemon.

Pembeli percaya bahwa NFT yang dibeli akan diminati dalam waktu yang akan datang dan berpotensi membuat harga jual lebih tinggi. Dengan demikian, pembeli akan mendapatkan keuntungan.

Meski begitu, masyarakat juga harus hati-hati. Jangan sampai karena NFT sedang heboh, masyarakat asal membeli NFT karena mengharap untung besar.

Pasalnya, NFT tak bisa disebut sebagai aset likuid. Hal ini berarti tak semua barang berbentuk NFT yang dibeli pasti laku ketika dijual kembali.

“Saat ini belum (likuid). Masih jauh lebih likuid perdagangan aset kripto pada umumnya,” ucap Milken.

Di sisi lain, jika produk berbentuk NFT laris, maka akan memberikan keuntungan bagi pembeli dan penjual. Pembeli akan menikmati cuan ketika ada peminat yang bersedia membeli dengan harga lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Dari sisi penjual, mereka juga akan diuntungkan karena produknya laris lewat NFT. Namun, kata Milken, pemasaran produk lewat NFT harus lebih gencar agar potensi penjualan meningkat.

“Dari sisi pembeli apabila membeli karya NFT, dipastikan bahwa karya tersebut memiliki popularitas atau komunitas yang cukup mendukung sehingga potensi harga bisa naik,” terang Milken.

Lebih lanjut Milken memaparkan masyarakat yang ingin membeli produk NFT bisa lewat marketplace. Untuk melakukan transaksi di marketplace, masyarakat perlu menggunakan dompet seperti metamask.

Metamask adalah sebuah dompet aset kripto yang terhubung dengan sistem blockchain ethereum.

“Marketplace (NFT) yang populer saat ini hanya menerima kripto sebagai alat transaksi,” ujar Milken.

Dengan kata lain, masyarakat yang ingin membeli produk berbentuk NFT harus memiliki akun di marketplace dan platform aset kripto. Beberapa platform aset kripto yang legal di RI, yakni Bitocto, Indodax, dan Tokocrypto.

“Untuk seseorang yang ingin membeli NFT perlu membuka akun di pedagang aset kripto seperti Bitocto, lalu membeli ethereum dengan rupiah. Setelah itu mengirim ethereum ke wallet metamask untuk mulai bertransaksi di NFT marketplace,” jelas Milken.

Pasar Barang Koleksi

Senada, Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengibaratkan NFT sebagai sebuah pasar atau tempat jual beli barang koleksi. Barang-barang tersebut biasanya terbilang unik.

“Karena barang koleksi, harganya menjadi kadang tidak rasional,” ucap Andi.

Ia berpendapat barang koleksi itu terhubung dengan sistem blockchain. Alhasil, barang tersebut tak bisa dipalsukan atau dicuri.

“Dari sisi keamanan orang yang jual lebih merasa aman karena tidak akan dicuri. Buat pembeli mereka bisa yakin ini barang barang asli punya si penjual,” papar Andi.

Ibarat koleksi, pemilik juga bisa menjual barang tersebut jika ada peminat dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan saat ia membeli dulu. Dari situ, pemilik akan mendapatkan untung.

“Misalnya orang yang mengerti sejarah, seni, ada keris yang dibeli Rp100 ribu-Rp200 ribu, dijual bisa Rp100 jutaan, namanya barang koleksi apakah bisa menjadi investasi, iya,” jelas Andi.

Kendati begitu, produk berbentuk NFT tak bisa disebut aset likuid. Sebab, tak semua orang mau membeli NFT.

“Kalau mau likuid bisa menawarkan ke komunitas tertentu,” imbuh Andi.

Ia menambahkan bahwa NFT bersifat high risk high return. Dengan kata lain, NFT bisa memberikan cuan besar, tapi juga bisa merugikan pemiliknya.

“Ketika sudah beli tapi tidak bisa dijual karena tidak ada peminat, itu risikonya. Kalau barang itu dianggap tak berharga, maka (penjual) rugi di situ,” pungkas Andi.
(aud/sfr)

 

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/

6085768219885996691-min

TOPIK TERKAIT

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

3474362364620514386-min

TEKNOLOGI

TERPOPULER

HIBURAN

bannera

POLITIK